Minggu 21 Juni 2026 - 20:07
Kajian Mahdawiyah (33) | Tempat Tinggal Imam Mahdi (as) pada Zaman Ghaibah Kubra

Hawzah/ Jika dalam masalah ghaibah, hal-hal seperti tempat Imam (as), makanan beliau, dan lain-lain tetap dirahasiakan, hal itu tidak akan menimbulkan keraguan atau syubhat; sebagaimana terungkapnya hal-hal tersebut juga tidak berpengaruh terhadap penetapan dan pembuktian prinsip ghaibah itu sendiri.

Berita Hawzah – Rangkaian kajian tentang Mahdawiyah dengan judul "Menuju Masyarakat Ideal" dipersembahkan kepada Anda para cendekiawan terhormat dengan tujuan menyebarkan ajaran-ajaran dan pengetahuan terkait Imam Zaman (semoga Allah menyegerakan kemunculannya).

Di masa Ghaibah Kubra, di manakah Imam Mahdi as bertempat tinggal?

Pada prinsipnya, perlu diperhatikan bahwa jika dalam masalah ghaibah, hal-hal semacam ini tetap dirahasiakan, hal itu tidak akan menimbulkan keraguan atau syubhat; sebagaimana terungkapnya hal tersebut juga tidak berpengaruh terhadap penetapan dan pembuktian prinsip ghaibah itu sendiri.

Dan ketika ghaibah sosok Imam (as) dan keberadaan beliau yang tersembunyi itu masuk akal dan logis - sebagaimana adanya dan kita imani - maka kerahasiaan detail-detail semacam ini dengan cara yang lebih utama juga akan masuk akal dan logis. Dan ketidaktahuan terhadap hal-hal semacam ini tidak akan menjadi dalil bagi apapun.

Namun demikian, untuk memberikan jawaban singkat terhadap pertanyaan ini, kami sampaikan bahwa berdasarkan apa yang dapat dipahami dari sebagian hadis dan riwayat-riwayat terpercaya, Imam 'alaihis salam pada masa ghaibah kubra tidak menetap secara permanen di tempat tertentu atau di kota tertentu. Akan tetapi, beliau melakukan perjalanan, berpindah, dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk menjalankan tugas dan kewajiban-kewajiban beliau; dan di berbagai tempat, berdasarkan sebagian riwayat. 

Di antara kota-kota yang pasti telah dihiasi dengan kehadiran suci beliau adalah Madinah al-Munawwarah, Makkah al-Mukarramah, Najaf al-Asyraf, Kufah, Karbala, Kazimain, Samarra, Mashhad, Qom, dan Baghdad; dan tempat-tempat serta lokasi-lokasi yang telah dimuliakan dengan kehadiran beliau pun banyak, seperti Masjid Jamkaran di Qom, Masjid Kufah, Masjid Sahla, Maqam Imam Sahib al-Amr di Wadi as-Salam Najaf, dan di Hilla.

Dan tidaklah mustahil bahwa tempat tinggal utama beliau atau tempat-tempat yang paling sering dimuliakan dengan kehadiran beliau adalah Makkah al-Mukarramah, Madinah al-Munawwarah, dan al-'Atabat al-Muqaddasah (tempat-tempat suci).

Jika ditanyakan: apa hubungan Imam Mahdi 'alaihis salam dengan "Gunung Radhwa" dan "Dzi Thuwa" sebagaimana disebutkan dalam doa Nudbah:

«لَیْتَ شِعْری أَیْنَ اسْتَقَرَّتْ بِکَ النَّوَی، بَلْ أَیُّ أَرْضٍ تُقِلُّکَ أَوْ ثَرَی أَبِرَضْوَی أَوْ غَیْرِهَا أَمْ ذِی طُوَی».

"Alangkah baiknya jika aku mengetahui ke mana tujuan perjalananmu menetap, atau tanah mana yang membawamu, apakah di tanah Radhwa atau selainnya, ataukah di Dzi Thuwa?"

Sebagai jawabannya, kami katakan bahwa kedua tempat ini — berdasarkan kitab-kitab mu'jam dan sejarah — juga termasuk tempat-tempat yang suci, dan mungkin saja beliau menghabiskan sebagian waktu mulia beliau di kedua tempat ini untuk beribadah dan menyendiri. Dan kalimat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa kedua tempat ini atau salah satu di antaranya merupakan tempat tinggal tetap beliau.

Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang sesungguhnya (istifham haqiqi), melainkan diucapkan dengan tujuan mengungkapkan kepedihan karena perpisahan, penyesalan atas keterpisahan dan ketiadaan kesempatan untuk memperoleh keberkahan kehadiran beliau, serta keterlambatan zaman kemunculan beliau. Selain itu, beberapa redaksi dalam doa Nudbah yang mulia menunjukkan bahwa beliau berada di tengah-tengah manusia dan tidak keluar dari tengah-tengah mereka; seperti kalimat berikut:

«بِنَفْسِی أَنْتَ مِنْ مُغَیَّبٍ لَمْ یَخْلُ مِنَّا بِنَفْسِی أَنْتَ مِنْ نَازِحٍ لَمْ یَنْزَحْ (مَانَزَحَ) عَنَّا».

"Jiwaku menjadi tebusanmu, wahai yang tersembunyi namun tidak pernah kosong (hadir) dari kami. Jiwaku menjadi tebusanmu, wahai yang jauh namun tidak pernah menjauh dari kami."

Jika seseorang bertanya: lalu bagaimana dengan apa yang beredar di sebagian kalangan, dan khususnya sebagian ulama Ahlusunnah mengulang-ngulangnya, bahkan terkadang menjadikannya sebagai dalih untuk menyerang dan mencaci-maki Syiah, yaitu bahwa Syiah meyakini bahwa Imam Sahib al-Amr 'alaihis salam disembunyikan di ruang bawah tanah Samarra, dari manakah sumbernya?

Maka jawabannya adalah: hal ini tidak lain hanyalah kedustaan, fitnah, dan kebohongan belaka. Klaim ini sama sekali tidak memiliki sumber.

Pembahasan ini bersambung...

Diambil dari kitab "Jawaban atas Sepuluh Pertanyaan seputar Imamah" karya Ayatullah Shafi Gulpaygani — dengan sedikit perubahan.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha